Tidak semua hal dalam hidup dapat dijelaskan dengan logika. Ada peristiwa yang datang tanpa peringatan, ada jalan yang berubah arah tanpa alasan yang kita pahami. Di titik inilah percaya menjadi sebuah pilihan, bukan perasaan.
Sering kali kita ingin mengerti terlebih dahulu, baru kemudian percaya. Kita ingin kepastian sebelum melangkah, kejelasan sebelum berserah. Namun iman tidak selalu bekerja demikian. Iman justru bertumbuh ketika kita tetap berjalan meski pandangan terasa terbatas.
Ketika keadaan tidak sesuai harapan, hati mudah dipenuhi pertanyaan. Mengapa ini terjadi? Mengapa harus sekarang? Mengapa harus saya? Pertanyaan-pertanyaan ini wajar, dan Tuhan tidak menolaknya. Tetapi iman mengajak kita untuk tidak berhenti pada pertanyaan, melainkan melangkah bersama Tuhan di tengah ketidakmengertian.
Percaya bukan berarti menutup mata terhadap rasa sakit. Percaya berarti membawa semua kegelisahan itu kepada Tuhan, dan tetap memilih bersandar kepada-Nya. Bukan karena kita memahami rencana-Nya, tetapi karena kita mengenal hati-Nya.
Dalam perjalanan iman, Tuhan jarang memberikan peta yang lengkap. Ia sering memberi langkah demi langkah. Cukup terang untuk satu langkah ke depan, bukan untuk seluruh perjalanan. Di sanalah kita belajar bergantung, bukan mengendalikan.
Ada kedewasaan rohani yang lahir dari ketidakpastian. Saat kita tidak lagi bersandar pada pengertian sendiri, kita belajar berserah sepenuhnya. Dan di situlah iman menjadi nyata—bukan sebagai konsep, tetapi sebagai kepercayaan yang hidup.
Jika hari ini Anda sedang berada di persimpangan yang membingungkan, izinkan diri Anda untuk tetap percaya, meski belum mengerti. Tuhan tidak meminta Anda memahami segalanya. Ia hanya mengundang Anda untuk berjalan bersama-Nya, satu langkah pada satu waktu.