Ada masa ketika lelah bukan hanya terasa di tubuh, tetapi juga di hati. Semangat memudar, doa terasa berat, dan iman yang dulu kuat kini terasa rapuh. Dalam keadaan seperti ini, sering kali kita merasa bersalah karena tidak lagi mampu berdoa seperti sebelumnya.
Padahal Tuhan memahami kelelahan jiwa. Ia melihat air mata yang tidak terucap dan pergumulan yang tidak sanggup dirangkai menjadi kata-kata. Ketika iman mulai goyah, Tuhan tidak menjauh. Justru di sanalah Ia mendekat dengan kelembutan.
Doa di masa lelah tidak harus panjang atau indah. Kadang doa hanya berupa helaan napas, keluhan sederhana, atau keheningan di hadapan Tuhan. Dan itu cukup. Tuhan tidak menuntut kesempurnaan, Ia menginginkan kejujuran.
Saat hati lelah, doa menjadi tempat bersandar, bukan beban yang harus dipikul. Kita datang bukan untuk menunjukkan kekuatan, tetapi untuk mengakui keterbatasan. Dalam pengakuan itulah, kasih karunia Tuhan bekerja.
Iman yang goyah bukan tanda kegagalan. Ia adalah tanda bahwa kita masih peduli, masih berharap, dan masih ingin bertahan. Tuhan setia menopang iman yang hampir padam, sama seperti Ia menjaga nyala api kecil agar tidak padam oleh angin.
Jika hari ini Anda merasa terlalu lelah untuk percaya sepenuhnya, datanglah apa adanya. Biarkan Tuhan memeluk jiwa yang letih dan menguatkan iman yang hampir runtuh. Dalam kelemahan, kuasa Tuhan justru dinyatakan dengan sempurna.